writer.as/lalalafindyou

TW // Graphic violence , Very toxic family issues , Mention of cheating , Heavy swearing , Harsh words

“Ini kuenya.”

Romeo tersenyum lebar ketika seorang perempuan dengan rambut panjang nyentrik berwarna merah muda menyerahkan sebuah kantong plastik berwarna putih kepadanya. Meisy, teman satu angkatan Romeo yang menjadi tempatnya memesan kue ulang tahun untuk Papi, menatap ke arah Romeo dengan malas, diam-diam membujuk dirinya untuk tidak tersipu karena diberikan senyuman manis oleh Romeo.

“Makasih, ya, Meisy cantik. Duitnya udah gue transfer kemarin, kan?” tanya Romeo memastikan.

Meisy mengangguk. “Udah, tapi lo transfer lebih lima puluh ribu. Mau gue balikin kemarin, tapi pesanan kue lagi banyak banget, gue balikin cash aja sekarang, ya?” ucap Meisy sambil meletakkan kantong plastik berisi kue pesanan orang lain yang sejak tadi ia bawa ke lantai, kemudian mencoba mencari dompet miliknya di dalam saku cardigan yang membalut tubuhnya.

Romeo yang melihat itu pun menggeleng. “Eh, nggak usah. Itu anggap aja tip dari gue soalnya mesen kue ke lo nggak dari jauh-jauh hari, terus minta anterin hari ini pula. Nggak usah dibalikin, itu ucapan maaf dari gue, kok. Gue malah niatnya mau ngasih lebih lagi tapi duit gue cuma ada segitu,” ucapnya dengan ringisan tipis di ujung kalimat, merasa tidak enak pada Meisy karena sudah merepotkan perempuan itu.

Meisy tidak banyak protes mendengar kalimat yang barusan Romeo katakan, perempuan itu malah tertawa senang dan menepuk pundak Romeo sebagai tanda terima kasih. Setelah berbincang singkat tentang beberapa hal, Meisy langsung pamit untuk mengantar kue lain yang sudah dipesan oleh pelanggan-pelanggannya hari ini, sedangkan Romeo langsung berlari kecil menuju area parkir fakultasnya dan berusaha menemukan motor matic berwarna hitam kesayangannya.

Tujuannya setelah ini adalah restoran yang menjadi tempat keluarganya berkumpul untuk merayakan ulang tahun Papi. Dengan luwes, Romeo mengeluarkan motornya dari barisan motor-motor lain yang terparkir di sana dan menaiki kendaraan roda dua itu, menghidupkan mesinnya dan mulai melaju dengan kecepatan sedang.

Benaknya berkecamuk, kekhawatiran tentang apa yang akan Papi katakan ketika melihat wajah Romeo di restoran nanti mulai mendominasi otaknya tanpa ampun. Laki-laki itu menghela napas panjang, berusaha membagi fokusnya dengan baik antara jalanan di depan dan pikirannya yang sedang ribut di dalam sana. Bagaimana kalau Papi melemparnya dengan sendok lagi seperti tahun kemarin? Bagaimana jika di depan semua waiters dan waitress yang bekerja di restoran itu, Papi akan menanyakan gelar mereka satu persatu lalu mengatakan bahwa anaknya yang bernama Romeo kemungkinan akan berakhir menjadi seperti mereka, yaitu dianggap tidak memiliki masa depan oleh Papi, seperti yang pernah Papi lakukan dua tahun yang lalu? Bagaimana jika ia dan laki-laki itu malah berakhir beradu mulut dan menyebabkan Mami menjadi korban pukulan Papi seperti tiga tahun yang lalu?

Romeo takut, ia benar-benar ketakutan.

Semua kenangan pahit itu membayanginya seperti sebuah mimpi buruk tiap kali hari ini datang. Ulang tahun Papi adalah salah satu hari yang paling ingin Romeo hindari datangnya sebab di hari ini, sesuatu yang menyakitkan pasti akan terjadi. Romeo ingin kabur tiap hari ini datang, ia ingin menyembunyikan diri di suatu tempat terpencil yang tidak bisa dideteksi oleh siapapun, apapun akan Romeo lakukan demi bisa kabur dari Papi. Akan tetapi, tidak ada yang bisa laki-laki itu lakukan sebab masih ada Mami yang akan selalu membujuknya untuk ikut merayakan hari ini, masih ada Mami yang ingin Romeo lihat wajahnya setiap hari, masih ada Mami. Perempuan itu membuat Romeo tidak mau pergi kemana-mana, bahkan jika taruhannya adalah tubuh dan kewarasannya yang harus menahan rasa sakit hari demi hari. Masih ada Mami, Romeo yakin ia bisa bertahan selama perempuan itu masih ada di sisinya.

Pikiran itu terus mengganggu Romeo hingga kemudian, ia sampai di depan sebuah restoran yang wujudnya sudah tak lagi asing di mata. Setelah memarkirkan motornya di area parkir khusus kendaraan beroda dua, Romeo melangkah mendekati pintu masuk utama restoran itu dengan langkah yang gemetar. Kedua tangannya menggenggam kantong plastik berisi kue yang ia pesan dari Meisy dengan erat, permukaan telapak tangannya terasa berkeringat.

Ketika Romeo masuk ke dalam bangunan itu, matanya langsung tertuju seorang resepsionis yang wajahnya selalu ia lihat di tahun-tahun sebelumnya. Papi selalu memilih tempat ini untuk menjadi tempatnya merayakan ulang tahun, makanya Romeo sudah sangat hafal dengan wajah beberapa pegawai di tempat ini meskipun ia hanya datang satu tahun sekali.

Sebuah senyum Romeo paksakan agar muncul di wajah ketika ia sudah berhadapan dengan si resepsionis yang dimaksud. Perempuan dengan rambut yang digelung rapi itu tersenyum lebar, tatapannya mengatakan bahwa ia sudah menunggu kedatangan Romeo sejak tadi, Mami mungkin sudah berpesan terlebih dahulu tentang Romeo yang akan datang ke tempat ini.

“Pak Erlangga dan Ibu sudah di dalam, Mas. Ibu tadi bilang sama saya biar ngasih tahu Mas Romeo, Mas Naka dan Mas Jo buat langsung masuk ke ruang private seperti biasa kalau sudah sampai,” ucap si resepsionis dengan ramah.

“Mas Naka sama Mas Jo belum datang, Mbak?”

Si resepsionis menggeleng. “Belum, Mas. Yang datang setengah jam lalu baru Bapak dan Ibu,” jawabnya.

Romeo tentu hafal ruangan yang dimaksud. Restoran ini menyediakan ruangan khusus yang bisa disewa untuk acara-acara penting seperti meeting, ulang tahun, lamaran dan acara penting lainnya. Keluarganya selalu menjadi salah satu tamu yang secara konstan menyewa ruangan itu tiap kali datang ke tempat ini. Maka, setelah mengucapkan terima kasih, Romeo langsung bergegas menuju ruangan yang dimaksud. Kue di tangannya adalah agenda utama yang tidak boleh dilewatkan dalam acara ulang tahun Papi. Mami pasti sudah menunggunya sejak lama dan Romeo tidak boleh membuat perempuan kesayangannya itu menunggu lebih lama lagi.

Lalu ketika Romeo sampai di depan ruangan itu, ia dikejutkan oleh suara ribut yang datangnya tepat dari dalam ruangan. Rasa khawatir langsung merambat naik, terutama ketika suara erangan Mami terdengar. Dengan kecepatan kilat, Romeo membuka pintu di depannya lebar-lebar.

Di sana, di depan sana, ada sosok Papi yang tengah berdiri di sisi kursi yang diduduki oleh Mami. Tangan kanan Papi menjambak rambut Mami yang terurai, wajah dua orang itu berada dalam jarak dekat dan Papi terlihat membisikkan sesuatu di telinga Mami.

Suara pintu yang terbuka membuat Papi langsung menoleh. Wajah bengisnya sekarang mampu Romeo saksikan dengan kedua matanya sendiri. Jambakan tangan Papi di rambut Mami semakin erat ketika laki-laki itu sadar bahwa tindakannya kemungkinan dilihat oleh orang lain karena pintu yang Romeo buka lebar-lebar. Rintihan Mami terdengar semakin kencang, perempuan itu bahkan mulai menangis karena rasa sakit yang dirasakannya.

“Tutup pintunya, anak bajingan. Kamu mau semua orang nonton Mami kamu dijambak begini? Iya?” Suara Papi setengah berbisik, sengaja agar tidak ada yang bisa mendengar kalimatnya selain Mami dan Romeo. Tatapan laki-laki itu kemudian mengarah pada Mami, matanya nyalang seolah tengah menatap seorang musuh yang siap untuk dibunuh. “Shut the fuck up, mau kamu sujud di depan aku pun, aku nggak akan lepasin rambut kamu. It’s a punishment karena kamu berani melawan apa yang kubilang.”

Tak sampai lima detik setelah Papi mengatakan hal itu, Romeo melepaskan kue di tangannya dan berlari ke arah Papi untuk menarik tangan laki-laki itu dari tubuh Mami. Tangan kiri Papi pun ternyata ikut berperan dalam menyakiti Mami. Laki-laki itu tidak hanya menjambak, tapi juga mencekek leher Mami menggunakan tangan kirinya dan membuat perempuan kesayangan Romeo itu kesulitan bernapas. Amarahnya berkobar, Romeo bahkan sampai lupa kalau di ruangan ini, masih ada Mami yang saat ini sedang menarik udara dengan rakus ke dalam paru-parunya pasca lepas dari cengkeraman Papi.

Tanpa mempertimbangkan apapun, termasuk logikanya yang berusaha memperingatkan bahwa orang yang sedang dihadapinya ini adalah ayah sendiri, Romeo menarik kerah kemeja Papi dan melayangkan sebuah tinjuan kencang di pipi laki-laki itu. Pandangannya menggelap, Romeo tidak lagi peduli kalau kemungkinan setelah ini, tubuhnya akan kembali menjadi sasaran amarah Papi. Dengan segenap tenaga yang ia punya, Romeo kembali melayangkan dua tinjuan beruntun, kali ini tujuannya adalah rahang sang lawan.

Desisan Papi terdengar jelas, laki-laki itu mulai merasakan efek dari pukulan keras yang Romeo berikan. Bersamaan dengan itu, teriakan Mami terdengar, perempuan itu meminta agar Romeo berhenti menghajar sang ayah dan mengatakan sesuatu tentang apa yang Papi lakukan padanya adalah murni karena kesalahan yang ia buat. Romeo bahkan hampir tertawa di tengah napasnya yang memburu. Mau sampai kapan Mami membela iblis di depan sana itu?

Kalimat Mami malah membuat Romeo semakin gelap mata dan kembali menerjang Papi, kali ini dengan memberikan sebuah tendangan teramat kencang di perut Papi sampai membuat laki-laki itu tersungkur ke belakang dan punggungnya menyentuh dinding. Suara tangisan Mami terdengar semakin kencang, Romeo bisa merasakan tangan kurus Mami mencoba menarik tubuhnya agar berhenti.

“Mundur, Mami. Orang ini harus dihajar karena berani nyakitin Mami dengan tangan kotornya,” ucap Romeo sambil melepaskan tangan Mami dari tangannya dengan gerakan yang teramat berhati-hati, takut kalau ia akan menyakiti Mami jika menyingkirkan perempuan itu dengan gerakan yang lebih kasar.

Papi mencoba bangkit dari tempatnya, erangan pelan muncul dari bibir laki-laki itu. Ada sedikit darah yang mengucur di sudut bibirnya, tanda kalau Romeo berhasil menghajar laki-laki itu sampai membuatnya terluka. Dengan harga diri yang terkoyak, Papi menatap Romeo seolah si bungsu di hadapannya itu adalah seonggok sampah menjijikkan. Papi kemudian mengarahkan tatapannya pada Mami dan menunjukkan ekspresi yang benar-benar membuat Romeo membenci laki-laki itu setengah mati.

“See? Anak haram ini sama sekali nggak tahu diri, Sarah.” Laki-laki itu menyebut nama Mami seolah nama itu adalah sebuah rapalan kalimat kutukan yang paling dibenci Tuhan. “Darah dagingku nggak akan pernah berbuat sesuatu serendah ini, anak yang benar-benar keturunanku nggak akan mungkin bersikap sekurang ajar ini sama ayahnya sendiri. Kanaka dan Jonathan sama sekali nggak akan pernah Kamu lihat sendiri kelakuannya, kan? Anak yang bikin kamu bersumpah kalau dia darah dagingku, anak yang kamu bilang bukan hasil dari selingkuh, kelakuannya ternyata nggak lebih dari binatang.”

Sakit, hati Romeo benar-benar sakit karena kalimat itu.

“Dia anak kamu, Mas. Romeo itu anak kamu, harus berapa kali lagi aku bilang kalau dia anak kandung kamu….”

Suara Mami terdengar serak di tengah tangisannya yang semakin kencang. Sesuatu di dalam dada Romeo langsung retak karena mendengar kalimat putus asa yang Mami katakan itu. Rasanya seperti ditarik ke masa lalu, tepatnya ketika usia Romeo masih sepuluh tahun ketika cerita soal Papi yang selalu menganggapnya sebagai anak hasil hubungan terlarang Mami dengan orang lain keluar dari mulut laki-laki itu untuk pertama kalinya.

“Kamu itu anak haram, Romeo.”

Romeo masih berusia sepuluh tahun ketika kalimat itu Papi katakan padanya di suatu sore. Anak itu masih belum mengerti banyak hal, tapi satu hal yang pasti; apa yang Papi katakan tentang anak haram itu bukanlah sesuatu yang baik untuk didengar.

“Sampai kapanpun, kamu nggak akan pernah dianggap sebagai bagian dari keluarga ini. Nama belakang kamu itu cuma hiasan, jangan pernah berharap kalau kamu akan dianggap sebagai anak hanya karena punya nama belakang yang sama dengan Kanaka dan Jonathan.”

Romeo masih berusia sepuluh tahun kala itu. Ia hanya anak berusia sepuluh tahun yang dengan bangga membawa piala hasil dari memenangkan lomba lari di sekolah, dengan harapan kalau Papi akan bangga padanya meski hanya sekali. Padahal hari itu, Romeo sudah benar-benar berharap kalau kalimat soal Romeo yang bodoh dan tidak akan pernah jadi seperti Mas Naka dan Mas Jo akan berhenti keluar dari mulut Papi.

“Kanaka dan Jonathan nggak akan pernah kurang ajar seperti ini, karena mereka darah dagingku. Berbeda sama anak haram ini, dia nggak akan pernah tahu caranya bersikap sopan di saat harusnya dia berterima kasih karena aku mau menampung dia di rumahku.” Papi membuang ludahnya ke samping, kemudian maju mendekat ke arah Romeo dan Mami. Dengan gerakan defensif, Romeo langsung melindungi Mami di belakang tubuhnya. Melihat itu, Papi menampilkan sebuah seringai sinis. “Iya, silakan lindungi Mami kamu yang murahan itu. Pelacur seperti dia memang sudah seharusnya—”

Kalimat itu menjadi titik terakhir bagi Romeo menahan diri. Ia maju dan memukul Papi berkali-kali sampai laki-laki itu terkulai lemah di lantai. Air matanya mengalir seiring dengan tinjuan dan tendangan yang ia berikan.

“Nggak ada yang boleh manggil Mami kayak gitu,” bisiknya pada Papi. “Papi boleh bilang aku anak haram atau apapun yang Papi mau. Papi boleh jadiin aku samsak tinju buat melampiaskan amarahnya Papi, silakan. Apapun, Papi boleh ngelakuin apapun asal jangan panggil Mami dengan sebutan rendah itu. Mamiku bukan perempuan murahan, Mamiku bukan pelacur.”

Lalu ketika satu tinjuan dengan kekuatan yang luar biasa kencang berhasil Romeo layangkan, dua orang laki-laki muncul dari arah pintu ruangan. Satu orang menahan Romeo, satu orang lagi menghampiri Papi yang sudah terbaring tidak sadarkan diri di lantai.

“GILA, YA, KAMU?!”

Itu teriakan Jonathan, laki-laki itu adalah sosok yang menghampiri Papi, sedangkan Kanaka menjadi orang yang menahan Romeo agar tidak maju dan menghajar Papi lagi. Romeo tidak mengatakan apapun, air matanya terus-terusan mengalir sebagai pelampiasan atas rasa sesak yang mengungkung dadanya.

“Kali ini kenapa? Hah? Kamu marah karena Papi minta kamu pindah jurusan ke kedokteran atau bisnis lagi? Iya? Mas udah pernah bilang, Romeo, cuma karena sesuatu sesimpel itu jangan sampai bikin kamu jadi kelewatan sama Papi!” ucap Jonathan dengan nada tinggi. Laki-laki itu melanjutkan, “Ini Papi kamu! Dia—”

“Dia nyekek Mami, Mas! Dia jambak rambut Mami dan nyebut Mami pelacur! Mas Jo kira aku bakal diam aja liat Mami diperlakukan kayak sampah begitu?!” ucap Romeo mencoba membela diri.

“But still, dia ayah kamu!”

Romeo benar-benar tertawa mendengar kalimat itu. “Aku anak haram, Mas. Papi sendiri yang bilang begitu, tolong jangan pura-pura lupa.”

“Romeo!”

Bukan, bukan Jonathan yang membentaknya, melainkan Mami. Romeo menoleh ke arah Mami, wajah cantik perempuan itu basah oleh air mata. Kilat matanya menunjukkan amarahnya dengan amat jelas, Romeo yakin bahwa kalimatnya barusan berhasil membuat Mami sakit hati. Jika biasanya, Romeo akan segera meminta maaf, maka yang terjadi kali ini tidaklah demikian. Romeo memilih untuk melepaskan cengkeraman Kanaka dari tubuhnya dengan kasar, kemudian melangkah pergi dari tempat itu.

TW // Mention of violence , Abusive behaviour

Romeo sedang duduk di kursi meja belajarnya ketika suara pintu kamarnya yang terbuka membuat perhatiannya teralih. Seseorang masuk, suara langkahnya terdengar jelas dari tempatnya duduk.

“Stop doing something useless, can’t you?”

Kedua tangan Romeo mengepal ketika mendengar pertanyaan yang dilemparkan dengan nada sinis itu. Romeo tahu dari siapa datangnya pertanyaan itu, sosoknya adalah yang paling Romeo hindari tiap kali berada di tempat ini, rumahnya sendiri. Perlahan, laki-laki itu memutar tubuh dan melihat sendiri sosok itu sambil berdoa di dalam hati agar tidak harus ada keributan yang terjadi kali ini.

Papi berdiri dengan jarak sepuluh kaki darinya, wajah laki-laki itu tidak terlihat senang. Diam-diam, Romeo mencoba menebak kesalahan apa lagi yang kali ini diperbuatnya sampai membuat ayahnya itu memasang ekspresi demikian. Apa karena ketahuan berkelahi demi membela Sabrina kemarin? Romeo tidak yakin kalau itu alasannya. Semua video yang berisi dirinya sedang menghajar Rangga seperti orang kesetanan kemarin sudah ia pastikan dihapus dari dunia maya, Romeo yakin tidak ada yang lolos dari perburuannya dan teman-temannya semalam.

Romeo baru hendak bertanya pada Papi tentang maksud dari kalimat laki-laki dengan rambut yang sudah putih sebagian itu, tapi niatnya langsung terhenti ketika sebuah kotak kado berwarna merah gelap dilemparkan ke arahnya dengan gerakan yang teramat kasar. Romeo mengenal kotak yang barusan Papi lemparkan itu, bibirnya langsung digigit keras demi menahan denyut nyeri yang secara brutal menyerang bagian dada.

Ah, ternyata karena kado yang ia beli kemarin. Papi marah karena Romeo meletakkan kado yang ia beli setelah meminta saran dari Sabrina itu di kamar Papi, Romeo sempat lupa kalau Papi benar-benar tidak menyukai apapun yang berasal dari dirinya, Romeo harusnya sadar.

“Mas Naka ngasih kado berupa gelar dokter spesialisnya hari ini ke Papi, sedangkan Mas Jo ngasih kado berupa grafik penjualan produk baru di perusahaan yang naik drastis dan kamu? Kamu kira ngasih Papi dasi murahan kayak gini bisa bikin Papi senang, begitu?” ucap Papi dengan nada ketus yang amat Romeo benci. “Papi bilang berkali-kali sama kamu, selama masih belum bisa jadi anak yang membanggakan, jangan pernah ngasih apa-apa tiap hari ulang tahun Papi karena apapun yang kamu kasih itu nggak akan pernah ada artinya, kapan kamu bisa paham?”

Tanpa mengatakan apapun, Romeo langsung memungut kotak berwarna merah gelap yang tadi dilemparkan ke arahnya, kemudian membawa benda itu ke arah tempat sampah di sudut ruangan kamarnya untuk dibuang. Suara yang ditimbulkan dari permukaan keras kotak yang bertemu dengan dasar kotak sampah pun menggema di seluruh penjuru.

“Kalau nggak suka kadonya, tinggal dibuang, nggak perlu pakai hina aku juga. Tinggal buang kadonya, nggak ribet. Hidup ini bisa dibikin mudah, tapi Papi malah milih buat hidup dengan ribet,” ucap Romeo tanpa sedikit pun menoleh ke arah ayahnya. “Tahun depan aku nggak akan kasih apa-apa ke Papi, tenang aja.”

Papi menatap Romeo tajam, tidak suka dengan nada cuek yang Romeo berikan padanya. “Jangan kurang ajar sama Papi, Romeo. Kamu tahu konsekuensinya kalau kamu bikin Papi marah.”

Romeo berdecak cukup keras, suaranya mungkin sampai ke telinga Papi karena suasana kamar yang sepi. “Apa? Mau mukulin aku lagi? Pukul aja, udah lama juga aku nggak dipukul sama Papi. Terakhir kapan, tuh? Waktu aku nggak lulus kedokteran, kan? Waktu itu tanganku sampai patah,” ucap Romeo sambil menampilkan sebuah senyum polos seolah kalimatnya barusan bukanlah sesuatu yang mengerikan.

“Kali ini mau apa lagi? Kaki? Eh, jangan. Kalau Papi patahin kakiku, aku nggak bisa main futsal lagi nanti, aku ada taruhan futsal sama anak komplek sebelah besok, jadi tolong kali ini jangan bikin kakiku patah, ya. Kalau mau, tangan lagi aja. Kemarin yang Papi patahin itu tangan kanan, yang kali ini tangan kiri aja,” ucapnya dengan santai.

“Anak kurang ajar—”

“Papi?”

Ah, suara lain muncul dan membuat Papi yang tadinya sudah bersiap untuk maju dan mengangkat tangan untuk menerjang Romeo langsung menghentikan niatnya. Itu suara Kanaka, laki-laki berusia tiga puluh lima tahun itu muncul dari balik pintu kamar Romeo dan menatap dua orang di dalam sana seolah tidak mengetahui apa yang tengah terjadi.

“Ada telepon dari pegawai Bank BSA, katanya mereka mau ngasih karangan bunga buat ulang tahun Papi dan kepala cabangnya mau ngomong langsung sama Papi sekarang,” ucap Kanaka sambil menyodorkan ponsel milik Papi yang menampilkan nomor tidak tersimpan yang tengah berada di dalam mode panggilan di layarnya.

Papi berdehem singkat, sebelum kemudian memutar tubuhnya dan mengambil alih ponselnya dari tangan Kanaka dan keluar dari kamar Romeo, meninggalkan anak sulung dan anak bungsunya di sana. Romeo menghela napas panjang, kemudian menatap kakak sulungnya dengan tatapan yang maknanya hanya bisa diartikan oleh mereka sendiri.

“Berhenti mancing emosinya Papi dan bikin dia mukulin kamu, bisa?” ucap Kanaka dengan nada kesal yang bercampur dengan khawatir di ujung kalimatnya. “Kalau kamu tantang begitu, Papi nggak akan segan mukulin kamu beneran, Romeo.”

Romeo berjalan ke arah kasurnya dan terkekeh pelan. “Terus kalau Papi beneran mukulin aku, kenapa? Nggak ada urusannya sama Mas Naka juga, aku udah biasa digituin sama Papi dari kecil.”

“Romeo—”

“Mas, kalau omongan Mas Naka bisa bikin Papi berhenti benci sama aku, aku bakal dengerin, oke? Masalahnya, nasihatnya Mas Naka nggak berarti apa-apa buat aku. Jadi, tolong berhenti sok peduli sama aku kecuali kamu itu Mami. Di rumah ini, nggak ada yang benar-benar peduli sama aku kecuali Mami,” balas Romeo sambil menatap Kanaka dengan ekspresi datar. “Urusin aja urusan Mas Naka, anggap aku nggak ada.”

Setelah mengatakan hal itu, Romeo kemudian merebahkan dirinya di atas kasur dan memejamkan matanya. Gerakan itu menjadi tanda bagi Kanaka untuk tidak mengatakan apapun lagi dan langsung keluar dari ruangan milik si bungsu, meski sebenarnya ada banyak yang ingin laki-laki itu katakan pada Romeo.

TW // Violence

Romeo itu orang gila.

Harusnya, Sabrina sudah mengetahui hal itu sejak awal dan memutuskan untuk mencari orang lain yang bisa membantunya agar bisa lepas dari Rangga. Harusnya ketika melihat bagaimana anehnya cara Romeo membalas pesannya di Tinder kemarin, Sabrina mencari orang lain yang bisa ia jadikan pacar pura-puranya.

Tebak apa yang Romeo lakukan di hari perjanjiannya dan Rangga itu?

Romeo diantar oleh sebuah mobil pemadam kebakaran.

Sabrina hampir pingsan ketika melihat laki-laki itu turun dari mobil besar berwarna merah itu sambil melambai riang ke arah petugas di dalam mobil sambil mengucapkan terima kasih. Dengan gayanya yang sok keren, Romeo menghampiri Sabrina dan Rangga yang sudah duduk saling berhadapan di area outdoor di depan cafe yang sama tempat Romeo dan Sabrina bertemu tadi malam.

Rangga datang lebih dulu pada pukul sembilan pagi dan Sabrina menyusul sepuluh menit kemudian. Dua orang itu sempat berdebat karena mulut Rangga yang menyebalkan dan mengundang emosi seperti biasanya. Rangga menuduhnya berbohong, tapi Sabrina tetap mencoba meyakinkan laki-laki itu bahwa pacar baru yang ia maksud sebentar lagi benar-benar akan datang.

Sabrina sudah mengirim belasan pesan pada Romeo, bertanya pada Romeo kapan laki-laki itu akan sampai karena demi Tuhan, berhadapan dengan Rangga saat ini benar-benar membuat Sabrina merasa sesak bukan main. Rasa mualnya benar-benar hampir naik ke permukaan dan hampir membuat Sabrina muntah di hadapan Rangga.

Masalahnya, Sabrina sama sekali tidak menyangka kalau dirinya akan mendengar suara sirine yang memekakkan telinga yang datangnya dari sebuah mobil pemadam kebakaran yang tampak melaju ke arah mereka. Sabrina awalnya mengira kalau mobil itu hanya akan melewatinya, tapi jantungnya langsung terasa merosot ke perut ketika mobil itu berhenti tepat dua meter dari tempatnya duduk. Romeo keluar dari sana dengan percaya diri, seolah aksinya barusan merupakan sebuah adegan dari sebuah film action.

“Bunda!”

There’s no way he just said that….

“Maaf Ayah baru dateng ya, Bunda. Ada yang minta tolong turunin kucing dari pohon mangga, tapi Om-Om Pemadam Kebakarannya nyasar, jadi Ayah bantuin mereka nyari titiknya dulu soalnya Ayah hafal daerah sini. Bunda udah nunggu lama?”

Sabrina benar-benar ingin menangis detik itu juga.

Sedangkan Rangga, laki-laki itu memasang ekspresi seolah baru saja melihat hantu. Rangga menatap bergantian ke arah Sabrina dan Romeo, mencoba menilai laki-laki yang baru saja memanggil Sabrina dengan panggilan Bunda itu dari ujung kaki hingga kepala sebelum kemudian tertawa sinis.

“Ini pacar baru kamu? Anak alay ini?”

Romeo langsung menatap tajam ke arah Rangga, ekspresi semringahnya langsung berubah masam ketika memandang Rangga. “Iya, gue pacar barunya. Kenapa? Nggak seneng?” ucapnya menantang. “Dan lo pasti cowok brengsek yang udah bikin cewek gue tersiksa selama kalian pacaran, kan?”

Romeo kemudian maju dan menjulurkan tangannya ke depan. Wajah angkuhnya terlihat benar-benar menyebalkan, satu tangannya yang berada di belakang tubuh pun membuat kesan sombong yang Romeo coba tampilkan semakin terasa kental. “Kenalin, Romeo. Gue pacarnya Sabrina sejak satu bulan belakangan dan gue dengar dari cewek gue, lo masih berusaha ngejar-ngejar dia padahal jelas dia udah minta putus dari lo.”

Rangga hanya memandang uluran tangan Romeo dengan tatapan jijik, kemudian mengalihkan tatapannya pada Sabrina yang masih terlihat shock. “Sabi, Baby, aku nggak nyangka kalau selera kamu turun sedrastis ini. I thought that you really found someone perfect, bukannya jamet nggak jelas kayak gini. Padahal—”

“Call her with that baby again and I’ll break your legs.”

Romeo memotong kalimat Rangga tanpa ragu. Rangga terkejut, Sabrina jauh lebih terkejut. Romeo dengan wajah seriusnya kemudian maju dan menarik pelan tangan Sabrina agar perempuan itu berdiri di belakangnya, menyembunyikan tubuh kecil Sabrina dari jangkauan Rangga dan menjadikan dirinya tameng di antara dua orang itu.

Rangga tertawa mengejek. “Lo dibayar berapa sama Sabrina biar mau ngaku jadi pacarnya di depan gue?” tanya laki-laki itu dengan nada merendahkan. “Lo lagi butuh duit, kan? Biar gue yang kasih, gue pastikan jumlahnya tiga kali lipat dari yang Sabrina kasih buat lo, jadi lo bisa berhenti bersikap sok keren kayak gini dan berhenti mencampuri urusan gue sama dia.”

Mendengar kalimat itu, Sabrina tanpa sadar meremas bagian belakang baju yang Romeo kenakan. Rangga bisa mencium gelagatnya yang aneh, Sabrina mulai takut sekarang. Namun di luar dugaannya, Romeo bermain peran lebih baik dari yang ia duga. Laki-laki itu juga terkekeh, kekehannya santai tapi Sabrina bisa langsung melihat wajah jengkel Rangga karena suara tawa Romeo yang menyebalkan.

“Lo sombong begini punya apaan, sih, memangnya?” tanya Romeo. “Bapak lo yang punya negara, iya? Atau bapak lo yang punya Jakarta? Heran, sombong amat jadi manusia sampai bisa-bisanya lo menganggap Sabrina sebagai samsak tinju yang bisa dipukulin kapan aja.”

Merasa terhina karena kalimat Romeo, Rangga mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku jemari laki-laki itu memutih. “Kalau gue mau, gue bisa bikin lo dikeluarin dari kampus lo sekarang juga, berengsek.”

Romeo memiringkan kepalanya. “Terus? Lo pikir gue takut gitu? Damn, lo benar-benar kayak katak dalam tempurung, lo kira dengan status bokap lo sebagai pemilik satu kampus, lo jadi bisa bikin gue dikeluarin dari kampus seenaknya, gitu? Bokap lo bukan penguasa bumi, Narangga. Ini negara hukum, bukti kejahatan lo ada dimana-mana dan gue bisa dengan mudah bikin lo dipenjara, bahkan orang tua lo yang katanya punya kuasa itu pun nggak akan bisa mengeluarkan lo dari sana dengan mudah.”

Kalimat itu terdengar benar-benar mengancam. Sabrina bahkan sampai harus menahan napas mendengarnya. Perempuan itu menatap Romeo, penasaran dengan siapa sebenarnya laki-laki yang secara acak ia mintai bantuan ini sampai Romeo bisa dengan berani mengatakan kalimat semacam itu tanpa beban. Belum sempat Sabrina mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, Romeo kembali bersuara.

“Gue dengar nyokap lo punya butik yang udah buka cabang di Singapura dan Bangkok, kan? Coba tanya sama beliau, seberapa berpengaruh apa orang yang namanya Helanina Agni Dayasha ke bisnis nyokap lo. Itu Oma gue dan kalau gue mau, gue bisa minta ke beliau buat cabut semua bantuan yang dia kasih ke nyokap lo biar bisnisnya bangkrut. Lo bikin gue keluar dari kampus, gue bikin keluarga lo bangkrut. Gimana? Impas?”

Romeo kemudian melanjutkan, “Bajingan kayak lo nggak pantas dapetin Sabrina, Narangga. Sampah masyarakat kayak lo sama sekali nggak pantas menyentuh Sabrina sedikit pun dengan tangan lo yang kotor itu. Lo butuh dibawa ke Rumah Sakit Jiwa, Rangga. Kelakuan lo ini bukan lagi kelakuan manusia, tapi kelakuan binatang.”

Tak lama kemudian, suara teriakan kencang milik Sabrina terdengar karena Rangga yang maju dan meninju wajah Romeo dalam satu gerakan kilat. Mengingat janjinya untuk melindungi Romeo jika Rangga mulai berbuat macam-macam, Sabrina langsung berdiri di hadapan Romeo dan menghalangi Rangga.

“Mundur, jangan gila, Sabrina.” Romeo memberi peringatan dengan suara mendesis menahan sakit.

Sabrina menggeleng. “Gue udah janji bakal pasang badan buat lo,” jawabnya.

“Dan lo kira gue bakal biarin lo dipukulin sama orang gila ini sekali lagi? Mundur, karena kalau sampai lo kena pukulan dia lagi, gue benar-benar bakal ngamuk dan lo nggak akan bisa menghentikan gue sampai gue bikin muka bajingan itu nggak berbentuk.”

Maka pagi itu, ketika Sabrina dipaksa untuk mundur oleh Romeo agar tubuhnya tidak lagi terkena sasaran pukulan Rangga, dikisah rumit antara mereka dimulai. Tanpa satu pun dari mereka sadari, benang takdir di antara mereka mulai merambat mendekat dan mencari cara agar bisa terikat.

TW // MENTION OF VIOLENCE , TOXIC RELATIONSHIP

“Sabrina, ya?”

Sabrina menoleh ketika mendengar namanya disebut oleh seseorang dengan suara berat yang teramat asing. Seorang laki-laki yang mengenakan hoodie berwarna hitam serta gray sweatpants berdiri sekitar lima meter dari tempat Sabrina duduk, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku hoodie dan matanya terarah penasaran pada sosok Sabrina.

Romeo, Sabrina langsung melafalkan nama laki-laki itu di dalam hati, teringat pada foto yang ia lihat tadi siang di profil Tinder milik Romeo. That picture of him doesn’t do this man justice, Romeo nyatanya terlihat jauh lebih baik jika dilihat langsung seperti ini. Sabrina sampai hampir lupa menarik napasnya sendiri, laki-laki yang menurut Kanina merupakan player terkemuka di kalangan mahasiswa kampus mereka ini benar-benar punya tampang se-oke itu. *He deserves that title, seriously.(

Romeo 1 — Rangga 0.

Sabrina diam-diam tersenyum ketika skor itu tercetak di dalam kepalanya sendiri, merasa puas karena setidaknya dari aspek yang paling penting yaitu wajah, laki-laki bernama Romeo ini sudah mengantongi satu poin dibandingkan Rangga.

“Romeo, ya?” ucap Sabrina setelah menyadari bahwa dirinya sudah tertegun terlalu lama. Laki-laki di depannya itu mengangguk membenarkan, sebelum kemudian berjalan mendekat dan mengambil tempat di hadapan Sabrina. Kedua tangannya bertumpu di atas meja, sikapnya benar-benar santai seolah mereka berdua sudah pernah di tempat lain sebelumnya.

“Gue nggak expect lo bakal setuju sama ajakan gue buat ketemu di tempat ini,” ucap Sabrina sebagai pembuka percakapan. “Thank you so much, bantuan lo ini benar-benar berarti buat gue, gue janji bakal siap bantuin lo di masa depan sebagai balasan dari bantuan lo kali ini.”

Romeo menatap Sabrina dengan satu alisnya yang terangkat, seolah Sabrina baru saja mengatakan sesuatu yang paling tidak masuk akal yang pernah dikatakan oleh seseorang kepadanya. “Gue belum bilang kalau gue setuju buat bantuin lo,” ucap Romeo. Laki-laki itu melanjutkan, “Gue cuma setuju datang ke sini soalnya lo bilang lo bakal traktir gue makan dan kebetulan, gue belum makan malam. Kapan lagi gue bisa makan gratis sepuasnya, kan?”

Detik itu, rahang Sabrina terasa terjatuh.

“Lo … lo bilang lo setuju, jadi gue berasumsi kalau lo setuju buat dua hal; datang ke sini dan bantuin gue,” ucap Sabrina dengan suara mencicit. Baru kali ini, Sabrina bertemu dengan seseorang yang mampu membuatnya terdiam hanya dengan satu kalimat seperti ini.

“Gue, kan, udah bilang, yang lo minta itu bahaya, Sabrina. Taruhannya nyawa gue, soalnya mantan lo itu benar-benar gila, jadi gue nggak mungkin langsung setuju dengan mudah tanpa berpikir panjang.” Romeo kemudian mengangkat tangannya dan melambai ke arah seorang waitress untuk menyebutkan pesanannya. “Gue mau minum kopi sama mau pesan makanan berat, tolong nanti lo bayarin sesuai janji lo, oke?” ucapnya dengan santai.

Waitress dengan pakaian santai yang tadi dipanggil Romeo pun mendekat dan menyapa dua orang itu dengan ramah. Romeo kemudian menyebutkan pesanannya; Iced Americano with two pumps white mocha dan rice with butter chicken, dua jenis menu itu disebutkan oleh Romeo dengan lancar. Laki-laki itu kemudian menatap Sabrina dan mempersilakan perempuan itu untuk menyebutkan pesanannya.

“Lemonade aja satu, Kak.”

Usai menyebutkan pesanannya, Sabrina kemudian mengucapkan terima kasih pada si waitress yang meminta mereka menunggu sampai pesanan datang. Perempuan itu menatap Romeo, mencoba menerka apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam kepala laki-laki itu saat ini sebab demi Tuhan, Sabrina benar-benar tidak menyangka kalau Romeo ternyata akan bersikap sesantai ini hanya demi makanan dan kopi gratis.

“Gue rasa lo nggak semiskin itu sampai rela buang-buang waktu lo buat datang ke sini demi makanan dan kopi gratis,” ucap Sabrina menyuarakan pikirannya. “Listen, gue cuma punya waktu malam ini buat nyari orang yang bisa bantuin gue besok. Jadi kalau lo beneran cuma main-main sama gue, gue bakal nyari orang lain sekarang juga. Pesanan lo tadi bakal gue bayarin, tenang aja.”

Mendengar ultimatum itu, Romeo tertawa kencang. Kedua matanya sampai menghilang dan membentuk dua buah bulan sabit lucu yang membuat Sabrina mengernyit, tidak mengerti alasan laki-laki itu tertawa. Sabrina yang merasa dipermainkan pun berdiri dan mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan cafe itu dan benar-benar mencari orang lain yang bisa membantunya, tapi gerakan perempuan itu terhenti ketika Romeo tiba-tiba mengatakan sesuatu.

“Lo memang selalu setegang ini, ya?” tanya Romeo. “Santai, gue bercanda. Gue mau bantuin lo, kok. Nggak usah marah-marah, sekarang duduk dan jelasin rencana lo buat besok. Gue tahu lo cuma nyari pacar pura-pura, tapi gue tetap harus punya basic information soal lo dan mantan lo ini supaya nggak kelihatan kayak orang tolol besok.”

Mau tidak mau, Sabrina kembali duduk meski sebetulnya, ia kesal setengah mati pada Romeo. Bagaimana bisa laki-laki itu mempermainkannya di saat-saat genting seperti ini? Sabrina benar-benar ingin mengamuk, tapi ia tahan dirinya agar tidak meledak, takut jika Romeo malah berubah pikiran dan menolak membantunya besok. Menarik napas panjang untuk menetralkan emosinya, Sabrina kemudian mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas yang ia bawa, membuka menu galeri dan mencari satu-satunya foto Rangga yang tersisa di ponselnya untuk ditunjukkan kepada Romeo.

“Ini Rangga, lo pernah lihat mukanya?”

Romeo memperhatikan foto yang tampil di layar ponsel Sabrina dengan saksama, mencoba mengingat wajah itu dan akhirnya mengangguk beberapa detik kemudian. “Dia yang mimpin orasi rombongan demo kampusnya tahun kemarin. Gue nggak pernah ngobrol langsung, sih, tapi ada anak tongkrongan gue yang kenal sama dia.”

Sabrina mengangguk membenarkan. “Kalau lo udah pernah lihat dia, berarti kemungkinan besar lo tahu kelakuan dia, kan? Dia pernah dilaporin ke polisi karena mukulin juniornya di BEM awal tahun ini, tapi dia bebas tanpa syarat karena orang tuanya petinggi kampus dan omnya juga polisi.”

“Gue tahu ini orang bahaya, tapi gue nggak tahu kalau dia sebahaya itu,” ucap Romeo dengan jujur. “Tapi kalau dari cerita lo, dia juga pernah mukulin lo, berarti emang dia segila itu. Anak departemen gue pernah ada yang bermasalah sama dia cuma karena mereka nggak sengaja senggolan, terus besoknya udah babak belur muka itu anak karena dipukulin sama mantan lo.”

Sabrina bergidik ngeri, Rangga memang benar-benar sebrutal itu. “Iya, dia segila itu dan gue adalah salah satu korbannya. Makanya, gue benar-benar pengen bebas dari dia dan dia bilang, kalau gue punya pacar baru yang jauh lebih baik dari dia, dia bakal ngasih gue kebebasan, makanya gue buru-buru nyari orang buat diajak kerja sama, and here you are.”

Romeo terkekeh pelan dan mengangguk. “And here I am.”

Laki-laki itu kemudian terlihat berpikir sejenak sebelum kembali bertanya. “Lo bilang, dia mau lihat pacar baru lo lebih baik atau nggak daripada dia, tapi gue bingung sama satu hal. Gimana caranya dia tahu kalau gue lebih baik dari dia atau nggak? Lo bilang di Tinder kalau tampang gue mesti lebih cakep, otak gue harus lebih encer, duit gue harus lebih banyak, terus gue harus bisa berantem. Dia bisa nilai gue lebih cakep, lebih pintar, lebih tajir terus lebih jagoan dari dia dari mana?”

Sejujurnya, Sabrina juga tidak tahu. Jadi, perempuan itu mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng pasrah. “Untung tampang, gue yakin dia bakal tahu kalau dia udah kalah duluan sama lo karena dalam sekali lihat, siapapun bakal bilang kalau lo lebih cakep dari dia.”

Bahu Romeo naik satu senti lebih tinggi karena mendengar kalimat yang entah bermakna sebagai pujian atau sesuatu yang lain itu. Diam-diam, laki-laki itu berterima kasih pada Mami dan Papinya—walaupun ketika menyebut nama sang Papi, Romeo mengucapkan terima kasih itu dengan ogah-ogahan—karena sudah membuatnya terlahir dengan wajah ini.

Sabrina melanjutkan, “Terus masalah otak, gue nggak yakin dia bakal terlalu peduli sama ini. Nggak mungkin Rangga tiba-tiba ngasih lo kuis pengetahuan umum cuma buat ngetes tingkat kecerdasan lo, jadi lo aman buat bagian ini. Terus, masalah duit. Untuk masalah ini, gue juga masih clueless, tapi gue yakin Rangga bakal merhatiin penampilan lo sedetail-detailnya dan bakal ngatain lo kalau misal penampilan lo di bawah standarnya dia.”

“Buset, segitunya?” potong Romeo.

Sabrina mengangguk. “I wish I was lying, tapi Rangga memang sesombong itu. Dia menganggap nggak ada manusia yang lebih baik dari dia, pokoknya duni ini pusatnya ada sama dia dan nggak ada manusia lain yang boleh merebut titel itu.”

Romeo menatap Sabrina tidak percaya. Dia pernah mendengar cerita soal Narangga Adiwijaya ini sekilas dari mulut teman-temannya, tapi Romeo sama sekali tidak menyangka kalau laki-laki itu ternyata jauh lebih parah dari yang teman-temannya katakan.

“Lo, kok, bisa pacaran sama manusia sesampah itu?”

Sabrina tertawa hambar. Pertanyaan itu juga merupakan pertanyaan yang sama dengan yang ia ajukan pada dirinya sendiri berkali-kali. Kenapa bisa ia mau menerima Rangga dulu? Jangankan orang lain, Sabrina sendiri pun masih belum bisa menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.

“I was out of my mind, gue juga nggak tahu kenapa.”

Percakapan mereka terinterupsi oleh seorang waitress yang datang membawa pesanan mereka. Segera setelah semua pesanan dipastikan benar dan makanan serta minuman mereka sudah tertata rapi di atas meja, Sabrina langsung meraih gelas minumannya dan meneguk cairan asam dan sedikit manis itu beberapa kali.

“Gue pacaran sama dia selama enam bulan. Dia mulai mukulin gue di bulan keempat. Awalnya cuma sekedar narik tangan gue dengan kasar sampai kulit gue merah karena gue nggak mau disuruh pulang waktu lagi ada tugas kelompok sama anak-anak cowok di kelas gue. Berlanjut ke tamparan, terus tendangan di satu bulan terakhir karena gue yang mulai berani melawan,” jelas Sabrina dengan nada tenang, seolah yang sedang ia ceritakan merupakan kisah biasa tentang bagaimana harinya setelah bangun tidur dan mandi.

“Dan lo akhirnya menyerah.”

Sabrina mengangguk. “Dan gue akhirnya menyerah.”

Hening menguasai mereka setelahnya. Romeo masih shock karena cerita itu. Sosok Rangga yang diceritakan oleh Sabrina ternyata jauh lebih menyeramkan dari yang Romeo kira. Namun, cara Sabrina bercerita tentang laki-laki bernama Rangga itu benar-benar santai, seolah perempuan itu sudah terlanjur terbiasa dengan apa yang ia alami. Tatapan Romeo kemudian terarah pada lengan Sabrina yang terbuka dan terpaku pada sebuah bekas luka berwarna kecokelatan di permukaan kulit perempuan itu.

“Luka di lengan kanan lo, itu gara-gara Rangga juga?” tanya Romeo.

Sabrina langsung melihat luka di bagian lengan kanannya yang dimaksud oleh Romeo dan mengangguk. “Satu hari sebelum gue ngajak dia putus, dia sempat ngamuk karena gue pulang bareng cowok lain. Dia nggak bisa dihubungi waktu itu, gue juga lagi nggak punya saldo buat pesan ojek online dan kebetulan, teman gue ini pulang satu arah. Gue udah izin sama dia lewat chat tapi dia nggak bales.”

“Lo diapain?”

“Disundut pakai rokoknya.”

Detik itu, Romeo tahu kalau dirinya tidak punya alasan untuk menolak lagi. Di matanya saat ini, Sabrina terlihat seperti seekor anak kucing di tengah hujan lebat. Romeo punya alergi pada bulu kucing, ia akan langsung bersin ketika berkontak langsung pada hewan itu. Kucing itu penuh luka, tapi sama sekali tidak mengeong kencang untuk menarik perhatian orang-orang di sekitarnya agar diberi bantuan. Suaranya mencicit kecil, seolah gengsi yang kucing itu punya jauh lebih besar daripada rasa sakit dan dingin yang menyiksanya.

Melihat Sabrina saat ini mengingatkan Romeo pada adegan itu. Ia tetap memutuskan untuk mengambil tubuh kecil kusing itu dan membawanya pulang, meski dengan risiko alerginya akan kambuh. Romeo memutuskan untuk membantu Sabrina, dengan nekat mengatakan bahwa ia akan membantu perempuan itu walaupun tahu bahwa konsekuensi yang akan dihadapi tidaklah mudah.

TW // Harsh words , verbal sexual harassment , slut shaming

“Anjing, si Rangga ada di depan.”

Sabrina berujar panik setelah mendapatkan pesan dari pemilik kos yang sepertinya sedang duduk di halaman depan rumah itu. Kanina yang sedang mengunyah makanannya pun langsung melotot dan ikut melihat isi percakapan antara Sabrina dan Bu Riti, si ibu kos yang sedang memberitahu soal keberadaan Rangga. Sabrina mengetikkan sesuatu di ponselnya, jantung perempuan itu menggema gila-gilaan karena terlampau panik menunggu jawaban dari si ibu kos yang entah mengapa, terasa seperti berabad-abad.

“Ada si Bapak juga, kan, di luar?” tanya Kanina sambil menepuk pelan punggung temannya, mencoba menenangkan Sabrina yang benar-benar terlihat tegang. Apapun yang berkaitan dengan Narangga Adiwijaya selalu membuat Sabrina ketakutan, Kanina benar-benar mengutuk Rangga karena telah membuat temannya sampai harus bersembunyi begini.

“Ada, harusnya kalau udah dihalangin sana si Bapak, Rangga bakal kapok, sih.” Sabrina menjawab sambil terus melihat ke arah ponselnya, menunggu jawaban dari si ibu kos sambil berharap bahwa Rangga tidak akan berbuat nekat.

“Lo mendingan cuci tangan dulu, biar gue yang nunggu jawabannya si Ibu.” Kanina angkat bicara, tangannya menunjuk ke arah pintu kamar mandi Sabrina yang tertutup cukup rapat. “Biar kalau ada apa-apa, at least tangan lo udah bersih dan siap tonjok-tonjokan sama Rangga. Oke?” ujar Kanina kemudian.

Sabrina mengangguk, perempuan itu kemudian langsung bangkit dari lantai dan berlari kecil menuju kamar mandi. Dengan gerakan secepat kilat, Sabrina mencuci kedua tangannya menggunakan air dan sabun, lalu langsung keluar terburu-buru setelah selesai dengan urusannya di sana. Sabrina langsung menahan napas ketika suara notifikasi pesan masuk terdengar berkali-kali, tubuhnya semakin menegang. Perempuan itu menghampiri Kanina, kemudian ikut duduk untuk meraih ponsel miliknya. Dengan tangan yang sedikit gemetaran, perempuan itu membuka pesan yang masuk dengan perasaan cemas.

Bu Riti (Ibu Kos)

Mbk tlg cepat,,,

Bapak sdg berdebat dg Ms Rangga n Ms Rangga kelihatan emosi,,,

Sy takut suami sy ditonjok Mbk

Cepet ya Mbk

Mbk Sabrina

Mbk Sabrina tlg cepat..

Melihat pesan itu, Sabrina dan Kanina langsung berdiri. Kanina menyempatkan diri untuk meraih ponsel Sabrina yang tadinya tertinggal di lantai, kemudian mengambil ponsel miliknya sendiri untuk dibawa. Dua anak manusia itu kemudian langsung berlari dengan panik ke arah ruang tamu untuk melihat apa yang terjadi. Dan benar saja, suara Rangga yang lantang meminta agar dibiarkan menemui Sabrina langsung terdengar dan membuat Sabrina hampir kehilangan nyalinya.

“Rangga,” panggil Sabrina ketika sudah melihat Rangga dengan jelas. Laki-laki itu langsung mengangkat kepala dan memandang Sabrina, sebuah senyum miring muncul di wajahnya yang menyebalkan. Sabrina langsung dapat merasakan cairan di lambungnya naik ke tenggorokan, bahkan hanya menatap Rangga sudah berhasil membuatnya mual bukan main. “I’ve told you to stop bothering me, haven’t I?” ucap Sabrina dengan nada muak setengah mati.

“Oh, there you are, Princess. Aku tahu kalau kamu pasti ada di dalam, but this old bastard right here kept telling me to go and said that you’re not home yet.” Rangga maju dengan langkah lebar, melewati pasangan suami-istri pemilik rumah kos yang Sabrina tempati sambil melemparkan tatapan tajam ke arah dua orang itu, seolah memberi peringatan keras untuk tidak mencampuri urusannya dengan Sabrina melalui tatapan itu.

“Maju satu langkah lagi dan gue pastikan lo benar-benar mendekam di penjara besok pagi,” ucap Sabrina dengan nada dingin yang tak kalah menusuk. “I’ve told you many times that we’re over, gue nggak mau berurusan sama orang gila kayak lo lagi. Please, apa sesusah itu buat bikin lo paham kalau gue udah benar-benar muak sama kelakuan lo?” ucap Sabrina sambil menatap tepat ke arah kedua iris cokelat gelap milik Rangga, sejenak bertanya-tanya bagaimana bisa dirinya pernah jatuh cinta pada sosok kejam dan gila di depannya itu dulu.

“Fine.”

Rangga berhenti melangkah dan mengangkat tangan. “Ayo ngobrol di tempat lain kalau kamu nggak mau di sini. Take it or I’m gonna do something terrible, you better be good to me, Sabrina.”

Sabrina menatap ke sekeliling, termasuk kepada sosok Kanina yang berdiri sekitar dua meter di belakangnya. Sabrina bertanya pada perempuan itu melalui tatapan matanya, mencoba mencari dukungan moral pada Kanina dan mendapatkan sebuah anggukan pelan. Nggak apa-apa, begitu kiranya jawaban yang Kanina berikan. Sabrina kemudian memandang pemilik kosnya, merasa bersalah karena sudah membuat keributan dan membiarkan dua orang itu harus menghadapi kebrutalan Rangga. Sabrina menarik napas panjang, meyakinkan diri bahwa segalanya akan baik-baik saja dan Rangga tidak akan berani bertindak macam-macam.

“Gue udah ngasih tahu cowok-cowok kos sebelah kalau lo kemungkinan butuh bantuan. Nanti kalau ada apa-apa, teriak yang kencang, oke? Mereka lagi pada ngumpul di gazebo depan sana dan bakal siap bantuin lo kalau lo butuh.” Kanina mendekat ke arah Sabrina dan membisikkan hal itu agar Sabrina bisa merasa sedikit tenang. Kanina sengaja tidak meminta rombongan anak laki-laki di kos sebelah yang dia maksud untuk langsung bertindak. Rangga itu orang gila, laki-laki itu tidak akan segan menyakiti Sabrina kalau merasa terancam dan Kanina tidak ingin membuat segalanya menjadi lebih runyam. Selain itu, Kanina sejujurnya tidak seberani itu untuk membantu Sabrina secara langsung. Nyalinya tidak sebesar Sabrina, jadi perempuan itu lebih memilih untuk membantu temannya dengan cara lain.

“Let’s talk, tapi gue nggak mau bicara di tempat lain selain di dekat sini.” Sabrina menyanggupi, perempuan itu kemudian berjalan mendahului Rangga dan mencoba mencari tempat yang aman untuknya bicara dengan Rangga.

Mereka berdua kemudian sampai di depan sebuah taman yang sepi, tempat itu terletak kira-kira dua meter dari rumah kos Sabrina, tidak terlalu jauh dan masih dapat dijangkau oleh pandangan. Sabrina kemudian mendudukkan diri di sebuah ayunan di sana, dengan sengaja melebarkan kaki dan tangannya hingga tidak ada lagi tempat kosong untuk Rangga duduk. Dia biarkan laki-laki itu berdiri di sisi ayunan, benar-benar merasa enggan jika harus berada di dalam jarak dekat dengan Rangga.

“Lo mau ngomong apa lagi?” tanya Sabrina tanpa basa-basi. Perempuan itu benar-benar sudah terlihat muak dengan eksistensi Rangga.

Rangga memperhatikan perempuan di depannya itu dengan tatapan tertarik, laki-laki itu kemudian mengudarakan tawa sarkastik yang membuat Sabrina semakin harus menebalkan sabar. “First of all, tolong berhenti addressing diri kamu dengan kata ganti lo-gue. It doesn’t suit you, Sweetheart. Kamu kedengaran kayak bukan Sabrina yang aku kenal,” ucap laki-laki itu sebagai pembukaan.

“Oh, please. Kalau lo cuma mau bilang sesuatu yang nggak penting begitu, gue bakal pulang. Stop wasting my time and get straight to the point, gue muak lihat muka lo.” Sabrina menyanggah dengan berani, tidak peduli kalau Rangga kemungkinan akan menjadikannya sasaran empuk untuk meluapkan emosi setelah ini. “And the way I’m addressing myself with lo-gue is not your business at the very first place, lo nggak punya hak untuk mengatur cara bicara gue.”

“Damn, I didn’t know that you could be such a brat. Nggak apa-apa, I kind of love this side of you. It turns me on, you know?” ucap Rangga sambil menatap Sabrina seolah perempuan itu adalah seonggok daging lezat yang siap disantap kapan saja.

“Straight to the point, asshole.”

Rangga tertawa kencang. “Oke, maaf.”

Laki-laki itu kemudian meluruskan posisi berdirinya. “Siapa orangnya?” tanya Rangga, kali ini dengan nada yang benar-benar serius. Berhasil membuat Sabrina merinding hingga seluruh tubuhnya menegang takut.

“What do you mean?”

Rangga berdecak. “Kamu nggak mungkin minta putus tanpa alasan, Sabrina. Aku bukan orang tolol yang bisa kamu tipu seenaknya, alasan kamu ngajak putus itu benar-benar nggak masuk akal.”

Sabrina langsung mengangkat kepalanya agar bisa bertatapan langsung dengan Rangga. Sabrina heran, kemana sebenarnya otak Rangga yang pintar itu pergi? Bagaimana bisa laki-laki itu memiliki gelar mahasiswa berprestasi kalau untuk urusan memahami hal sesederhana ini saja Rangga tidak bisa?

“Lo memang selalu tolol kayak gini, ya?” tanya Sabrina.

Rangga mendesis menahan kesal. Laki-laki itu sampai harus memejamkan mata dan mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, mencoba menahan gejolak emosi yang dengan cepat naik ke kepala karena karena cara bicara Sabrina yang benar-benar kasar.

“Damn, how far did that bastard change you actually?” Rangga menggeleng tidak habis pikir, membuat Sabrina yang mendengar itu langsung menunjukkan ekspresi bingung. Rangga kemudian melanjutkan, “Apa aja yang sebenarnya selingkuhan kamu ajarkan sampai kamu berubah jadi perempuan kasar kayak gini? Tell me, sejauh mana bajingan itu udah merusak otak kamu?”

Astaga, laki-laki ini benar-benar sudah gila sepertinya. Sabrina mengerang frustasi, diam-diam berharap kalau ada sebuah batu besar yang bisa digunakan untuk melempar Rangga dengan keras, Sabrina mungkin sudah melakukan itu sejak lama. Masalahnya, batu terdekat yang bisa dilihatnya saat ini berada sekitar sepuluh langkah dari tempatnya duduk dan Rangga pasti akan bisa membaca gerakannya jika Sabrina mencoba melakukan hal itu.

“Gue nggak selingkuh, Bangsat. Lo paham bahasa manusia nggak, sih? Gue mau putus karena lo kasar dan gue nggak tahan sama temperamen lo yang kacau itu, mana bagian yang lo nggak ngerti?!”

Rangga tertawa semakin kencang, wajah bengisnya benar-benar terlihat menakutkan dan Sabrina semakin marah dibuatnya.

“Perempuan murahan kayak kamu nggak mungkin bisa bertahan hidup tanpa laki-laki, Sabrina. Kamu nggak mungkin bisa lepas dari aku kalau belum menemukan orang lain yang bisa gantiin posisi aku. You’re a weak little slut, kamu itu lemah dan butuh dilindungi, nggak mungkin kamu berani melangkah ke dunia di luar sana tanpa seseorang yang bisa bikin kamu merasa aman. Tell me, siapa orangnya sekarang?”

Sabrina benar-benar ingin memukul wajah itu sekarang juga. Perempuan itu benar-benar hampir melayangkan sebuah tamparan keras ke wajah Rangga, tapi gerakannya terhenti ketika Rangga kembali bersuara.

“Sebutin namanya dan biar aku ketemu sama dia, kalau memang selingkuhan kamu itu jauh lebih baik dari aku, I’ll let you go. Aku bakal membiarkan kamu bebas kalau memang selingkuhan kamu bisa unggul dari aku dalam banyak hal.”

Oh, Sabrina melihat sebuah kesempatan untuk kabur dari Rangga karena mendengar kalimat itu. Kemudian dengan akalnya yang hanya tersisa setengah, Sabrina menatap Rangga dengan tatapan berapi-api, menantang Rangga seolah tidak ada lagi ketakutan yang menghuni dirinya. “Kalau dia memang lebih baik dari lo, apa lo bakal benar-benar enyah dari hadapan gue selamanya?” tanya Sabrina dengan nada berani.

Rangga tersenyum. “See? Kamu mengaku dengan sendirinya kalau kamu selingkuh. What a pathetic little whore you are, Sabrina. Aku nggak menyangka kalau selama ini, perempuan kesayanganku ternyata semurah ini.”

Dan sepertinya, Sabrina memang sudah benar-benar kehilangan kewarasannya. “Jawab pertanyaan gue, kalau memang selingkuhan gue jauh lebih baik daripada lo, apa lo bisa menjamin kalau lo bakal pergi dari hidup gue selamanya?”

Laki-laki itu mengangguk dan memperhatikan wajah Sabrina secara keseluruhan. Tatapan kejamnya semakin jelas terlihat ketika menemukan bahwa tidak satupun rasa takut yang bisa dia temukan di wajah Sabrina. Perempuan itu benar-benar menantangnya, membuat Rangga sekali lagi mengudarakan tawa sebelum kembali bicara. “Kalau memang iya, aku nggak akan mengganggu hidup kamu lagi.”

Sabrina hampir bersorak di tempatnya kala mendengar kalimat itu. Namun niatnya batal karena Rangga yang kembali bicara dan kali ini, sebuah ancaman mengerikan laki-laki itu lemparkan dengan santai. “Tapi kalau nggak, you’ll get the consequences. Aku pastikan kamu bakal menyesal dan merangkak di tanah biar bisa balik lagi ke aku. Aku bakal bikin kamu nggak mau melirik orang lain lagi selain aku, aku pastikan kamu memuja tiap bekas langkah kakiku sampai aku mau memaafkan kamu.”

Gilanya, Sabrina langsung mengangguk setuju.

“Gue pastikan dia jauh lebih baik dari kamu, pegang omonganku.” Perempuan itu bangkit dari ayunan yang dia duduki dan menatap Rangga sambil tersenyum lebar. “Atur waktunya biar kalian bisa ketemu, gue pastikan dia nggak akan kalah dari lo dari segi apapun.”

Sabrina gila. Perempuan itu benar-benar sudah gila.

Catatan: Narasi di bawah ini mengandung kata-kata kasar dan tidak pantas, mengangkat isu seputar toxic relationship dan kekerasan. Mohon untuk menjadi pembaca yang bijak. Karakter Narangga dalam cerita ini tidak akan diberi face claim untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Jakarta, dua bulan sebelumnya.

Hari ini adalah hari jadi ke enam bulan bagi Sabrina dan laki-laki yang dia panggil dengan sebutan Rangga itu. Sabrina tidak tahu apa yang membuat dirinya sampai bisa bertahan dalam waktu yang cukup lama. Menghadapi Rangga bahkan hanya untuk satu hari akhir-akhir ini sudah terasa seperti neraka, entah bagaimana bisa perempuan itu menahan diri untuk tidak kabur dari Rangga selama enam bulan. Silakan sebut Sabrina bodoh karena tidak pernah menyadari kalau sebenarnya, ada yang salah dengan Rangga selama ini, tapi serius, laki-laki itu benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda aneh apapun di awal hubungan mereka dimulai.

Segalanya berjalan lancar, Rangga benar-benar merupakan laki-laki idaman yang membuat teman-teman Sabrina mengeluh iri karena tidak punya sosok yang sama dalam hidup mereka. Kalau dulu, Sabrina mungkin akan langsung setuju dengan ungkapan penuh rasa iri itu tanpa harus berpikir dua kali. Namun setelah melewati waktu hampir enam bulan bersama Rangga dan melihat bagaimana sifat laki-laki itu sebenarnya, Sabrina tidak akan sungkan memuntahkan semua rasa jijiknya di depan orang-orang yang memuji Rangga dengan kalimat-kalimat baik itu.

Narangga Adiwijaya, laki-laki itu berdiri di depannya sembari menjepit sebatang rokok di antara belah bibir. Tatapan mata Rangga sama sekali tidak terarah pada Sabrina, laki-laki itu lebih memilih untuk menatap ke samping, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka seolah perempuan di depannya itu sama sekali tidak terlihat.

Sabrina memperhatikan presensi Rangga dengan hati-hati, menyapu seluruh wajah Rangga dengan tatapan yang terlihat datar andalannya. Wajah bengis di depannya itu membuat Sabrina bergidik ngeri. Laki-laki itu bisa melakukan apa pun yang dia inginkan sekarang dan Sabrina mungkin tidak akan selamat kali ini. Pikiran untuk mundur dan menyerah mulai membayangi, Sabrina takut kalau Rangga akan melakukan sesuatu yang lebih parah daripada yang sudah laki-laki itu lakukan kemarin.

Namun rasa sakit di tulang pipinya, hasil dari tamparan keras dari Rangga dua hari lalu, membuat perempuan itu kembali dijemput logika. Rasa perih dan pening yang sampai saat ini masih terasa di kulit kepalanya akibat dari tarikan kencang yang Rangga berikan pada helai rambut hitamnya membuat Sabrina kembali dikuasai amarah. Harga dirinya diinjak seenak hati dan Sabrina tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.

Apa yang sebetulnya Sabrina cari dari laki-laki di depannya ini? Apa yang sebenarnya membuat Sabrina sampai mau bertahan selama ini? Apa yang Rangga tawarkan padanya sampai Sabrina mau menerima semua kalimat berisi hinaan yang dilontarkan dengan nada kasar itu selama beberapa bulan ini?

Sabrina mengernyit pelan karena pikirannya sendiri. Perlahan namun pasti, rasa asam dan pahit naik ke permukaan kerongkongannya dan membuat Sabrina harus menahan mual. Memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu membuat Sabrina ingin muntah, merasa jijik pada dirinya sendiri yang sudah dengan mudah terjerumus ke dalam lubang hitam yang Rangga ciptakan. Menyesali kebodohannya karena mau terjebak dalam jerat yang Rangga pasang dan baru menyadari hal itu setelah tubuhnya sudah terlanjur menjadi sasaran amarah laki-laki di depannya ini.

Biar Sabrina ceritakan sedikit tentang dirinya dan laki-laki yang kini tengah menatapnya dengan malas itu. Semuanya berawal dari sebuah festival musik yang diadakan oleh fakultas tempat Rangga menimba ilmu delapan bulan yang lalu. Sejujurnya, Sabrina enggan men